Artikel

Kasus Bunuh Diri Marak, Psikolog Ungkap Fenomena yang Jadi Latar Belakang

  • Di Publikasikan Pada: 27 Apr 2026
  • Oleh: Admin
  • 38

Surabaya - Kasus bunuh diri yang masih marak terjadi menjadi sorotan. Fenomena ini dinilai tidak bisa dilihat sebagai persoalan sederhana, melainkan berkaitan dengan tekanan psikologis yang menumpuk.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya Marini, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan, kasus bunuh diri, terutama di kalangan remaja kawasan urban tidak bisa dilihat sebagai persoalan sederhana.

"Dari sudut pandang psikologi, ini adalah akumulasi tekanan yang tidak tersalurkan dengan sehat. Remaja hari ini hidup dalam situasi yang kompleks, tuntutan akademik tinggi, tekanan sosial, serta paparan media sosial yang terus-menerus," ujar Marini saat dihubungi detikJatim, Kamis (23/4/2026).

Di usia yang sebenarnya masih dalam proses mencari jati diri, mereka sering kali belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang.

"Akibatnya, ketika tekanan datang bertubi-tubi, mereka lebih mudah merasa kewalahan dan kehilangan harapan," imbuhnya.

Ia menjelaskan, faktor yang melatarbelakangi bunuh diri umumnya juga tidak tunggal. Banyak kasus dipicu kombinasi perasaan tidak berharga, kesepian, tekanan hidup, hingga gangguan emosi seperti depresi yang tidak tertangani.

"Dalam praktik psikologi, banyak individu yang terlihat baik-baik saja justru menyimpan beban berat yang sering luput dari perhatian," ungkapnya.

Menurutnya, pola pemicu juga berbeda di tiap kelompok usia. Pada remaja, tekanan sosial seperti pertemanan, bullying, hingga perbandingan di media sosial menjadi faktor dominan. Sementara pada usia dewasa, tekanan lebih banyak berasal dari pekerjaan, ekonomi, dan relasi. Adapun pada lansia, rasa kehilangan dan kesepian menjadi pemicu utama.

"Meski berbeda, semuanya bermuara pada satu hal, hilangnya rasa keterhubungan dan makna hidup," jelasnya.

Marini menambahkan, stigma terhadap kesehatan mental pun masih menjadi hambatan besar. Banyak orang enggan mencari bantuan karena takut dianggap lemah.

"Padahal, dalam perspektif psikologi, mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja justru merupakan langkah awal yang sehat. Semakin lama emosi ditekan, semakin besar risiko dampaknya," tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran lingkungan terdekat. Dukungan dari keluarga dan teman dapat menjadi pelindung utama, sebaliknya relasi yang minim empati justru memperparah kondisi psikologis seseorang.

Di era digital, media sosial turut memperkuat tekanan. Perbandingan sosial yang tidak realistis kerap memicu perasaan tidak cukup baik jika tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis dan penerimaan diri.

Marini turut mengingatkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti perubahan perilaku drastis, menarik diri, sering merasa putus asa, hingga mulai membicarakan kematian. Bahkan, kondisi tiba-tiba tampak tenang setelah tekanan berat juga bisa menjadi sinyal berbahaya.

"Bantuan profesional sebaiknya segera dicari ketika seseorang mulai memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, merasa tidak mampu mengendalikan emosi, atau ketika dukungan dari lingkungan sekitar tidak lagi cukup membantu. Intervensi dini sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius," tuturnya.

Ia menekankan, kepedulian masyarakat menjadi kunci dalam mencegah kasus bunuh diri. Mendengarkan tanpa menghakimi disebut sebagai langkah sederhana namun berdampak besar.

"Pada akhirnya, penting untuk kita sadari bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara keseluruhan. Mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk bertahan. Dan sering kali, kepedulian kecil dari lingkungan sekitar bisa menjadi alasan seseorang untuk tetap memilih hidup," pungkasnya.